2 Sep 2011

Suatu tim astronom yang dipimpin (co-led) oleh Mark Brodwin dan Peter Eisehardt, keduanya dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, telah menemukan hampir 300 kluster (gugus) galaksi baru. Sekitar 100 diantaranya berjarak lebih dari 8 miliar tahun cahaya; terbentuk saat alam semesta masih berusia kurang dari separuh usianya sekarang. Penemuan ini menambah jumlah kluster galaksi berjarak sangat jauh hingga sebanyak enam kali dari jumlah yang semula diketahui.

Makin jauh sebuah kluster galaksi, makin muda pula usianya. Dengan demikian, kluster-kluster galaksi yang baru ditemukan itu masih berada pada tahap awal pembentukannya. Kluster biasanya memiliki sebuah galaksi yang paling masif, dimana bintang-bintangnya yang paling muda terbentuk. Dengan mempelajari sekian banyak kluster galaksi muda, astronom dapat mempelajar bagaimana bintang-bintang tahap awal terbentuk dan bagaimana kluster (dan galaksi-galaksi) berkembang.

Hasil ini dicapai dengan memanfaatkan kombinasi data infra merah dari Teleskop Antariksa Spitzer dengan koleksi citra optik yang dimiliki oleh National Optical Astronomy Observatory Deep Wide-field Survey di Observatorium Nasional Kitt Peak, Arizona. Penemuan tersebut dipresentasikan pada 5 Juni lalu pada pertemuan American Astronomical Society di Calgary, Canada

http://www.wattpad.com/127056-ditemukan-300-kluster-galaksi-baru

NASA Temukan Planet Berbatu Mirip Bumi

WASHINGTON - Sebuah teleskop NASA telah menemukan planet kecil di luar tata surya kita dan kondisinya berbatu sama seperti Bumi.

Sayangnya planet tersebut suhunya terlalu panas untuk mendukung kehidupan. Di satu sisi planet tersebut bersuhu sekira 2.700 derajat Fahrenheit atau 1.500 derajat celsius.

Planet tersebut bernama Kepler 10-b, yang diambil dari nama teleskop yang menemukannya. Demikian seperti dari Daily Mail, Selasa (11/1/2011).

Ilmuwan dari NASA, Natalie Batalha, mengatakan bahwa planet tersebut berukuran sekira 1,4 kali dari Bumi dan memiliki massa sekira 4 1/2 kali planet kita.

Para ahli astronom juga telah menemukan planet lainnya di luar tata surya kita yang massa-nya mirip dengan Bumi, tapi tidak ada yang semirip ini dalam ukuran diameter.


Alasan mengapa planet ini terlalu panas untuk ditinggali oleh mahkluk hidup adalah, jaraknya yang 20 kali lebih dekat dengan bintang induknya, dibandingkan jarak planet Merkurius dengan matahari kita.

Inilah Desain Pesawat di 2025 Ala NASA

Pada akhir 2010 lalu, Badan Antariksa AS, NASA, memberikan kontrak pada tiga tim yakni Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Perusahaan Boeing untuk meneliti konsep desain canggih pesawat terbang masa depan yang bisa digunakan pada tahun 2025.

Seperti dimuat situs NASA, masing-masing desain pesawat yang dihasilkan tiga tim nampak beda, Namun, apapun desainnya, harus memenuhi kriteria yang dipatok NASA, yakni: tidak berisik, tidak mengeluarkan asap buangan, dan hemat bahan bakar.

Itu artinya, setiap pesawat harus menyeimbangkan semua teknologi canggih dan keramahan lingkungan. NASA juga mengharuskan pesawat masa depan bisa dioperasikan dengan aman dalam manajemen lalu lintas udara yang lebih modern di masa depan.

Syarat yang lain: masing-masing pesawat harus bisa terbang sekurang-kurangnya 85 persen dari kecepatan suara, bisa melintasi jarak setidaknya 7.000 mil, dan bisa mengangkut 50.000 sampai 100.000 pon muatan, penumpang ditambah kargo.

Selama sisa waktu yang telah ditetapkan, tim akan meneliti, menguji, dan melakukan simulasi. Juga membuang dan mempertahankan inovasi agar mereka bisa ke luar sebagai pemenang dalam sayembara NASA ini.
Penasaran dengan desain nya?? klik link di bawah:
http://www.taukahkamu.com/2011/01/inilah-desain-pesawat-di-2025-ala-nasa.html

Ada Lautan Di Lapisan Bawah Permukaan Es Pluto

Pluto, yang kini tidak dianggap sebagai planet lagi di tata surya kita, diyakini memiliki lautan di lapisan bawah permukaan esnya. Pasalnya, panas radioaktif memiliki kemungkinan telah memanaskan inti dari Pluto. Demikian menurut sebuah penelitian terbaru.

Meski suhu permukaannya sangat dingin, akan tetapi planet kecil tersebut cukup hangat untuk memiliki lautan di bawah permukaannya. Menurut sebuah peragaan yang ditujukan untuk mengukur tingkat panas radioaktif yang bisa memanaskan inti dari Pluto. Demikian dikutip dari National Geographic, Senin (20/12/2010).


"Lautan tersebut diperkirakan seluas 100 sampai 170 kilometer, yang ditutupi oleh lapisan es setebal 200 kilometer," ujar Guilaume Robuchon, ilmuwan dari University of California, Santa Cruz.

Apabila ini benar, berarti Pluto akan bergabung dengan Titan dan Enceladus, planet satelit milik Saturnus yang dipercaya memiliki sumber air.

Meskipun permukaan planet Pluto bersuhu sekitar -230 derajat celsius, namun air di bawah permukaannya mungkin tidak akan ikut membeku, menurut sebuah peragaan yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut.

"Es adalah materi perekat yang baik," ujar Francis Nimmo dari University of California, yang juga rekan dari Robuchon.

Robuchon menambahkan, model peragaannya menunjukkan, bahwa bagian dalam Pluto bisa mengandung air, asalkan inti dari Pluto mengandung setidaknya ratusan bagian per miliar kadar radioaktif potassium. Lalu, batuan di Pluto juga harus bertumpuk di inti yang berbatu, dengan air dan permukaan yang dilapisi oleh es.

Pada 24 Agustus 2006, status Pluto dirubah, dari yang tadinya 'planet' menjadi 'planet kerdil'. Lalu pada 7 September 2006, nama Pluto diganti dengan nomor saja, yakni 134340.
http://www.taukahkamu.com/2010/12/ada-lautan-di-lapisan-bawah-permukaan.html

DITEMUKAN BENTUK KEHIDUPAN YANG LAIN DARIPADA YANG LAIN

Seringkali kita bertanya apakah di luar Bumi kita ini ada kehidupan lain ataukah tidak. Membayangkan bahwa kita ini hanya sendirian di alam semesta yang begitu luasnya ini terasa begitu menyeramkan, namun hingga kini kita belum menemukan bukti adanya kehidupan (bahkan yang paling sederhana pun) di luar Bumi. Semenjak sekitar lima puluh tahun lalu, manusia mulai menggunakan teleskop radio untuk mencari kehidupan cerdas di luar Bumi. Hingga kini sudah ada beberapa program pencarian kehidupan cerdas, namun hingga kini belum ada hasil. Dari ranah teoritis, hipotesis juga dibangun misalnya dengan memprediksi berapa jumlah kehidupan cerdas yang dapat muncul di alam semesta seperti yang kita huni. Namun persoalan ini pada umumnya terantuk pada satu permasalahan mendasar: kehidupan seperti apa yang kita maksud? Berhubung hingga saat ini kita tidak memiliki konsensus mengenai definisi kehidupan, dan juga karena kita hanya mengenal kehidupan di Bumi, maka definisi kehidupan dalam konteks ini adalah “kehidupan sebagaimana kita ketahui” (life as we know it). Mono Lake di California, Amerika Serikat. Danau ini memiliki kadar arsenik yang tinggi dan oleh karena itu dipilih sebagai lokasi penelitian. Sumber: NASA. Definisi itu kini telah diperluas dengan ditemukannya jasad renik yang menggunakan arsenik sebagai bagian dari metabolismenya. Di sebuah danau bernama Mono Lake di California, Amerika Serikat, sekelompok peneliti yang dibiayai NASA menemukan mikroorganisme pertama yang diketahui dapat hidup dan bereproduksi dengan menggunakan unsur beracun (bagi kehidupan lain). Selama ini, kehidupan sebagaimana kita ketahui mengandung enam unsur dasar: Karbon, Hidrogen, Nitrogen, Oksigen, Fosfor, dan Belerang. Fosfor adalah bagian penting dalam DNA dan RNA, yang merupakan struktur dasar setiap bentuk kehidupan di Bumi dan membawa informasi genetik suatu jasad. Dalam setiap sel makhluk hidup terdapat molekul-molekul bernama ATP yang bertugas menyalurkan energi. Komponen penting molekul ini adalah Fosfor. Secara kimia, struktur Arsenik sama dengan Fosfor, namun Arsenik beracun bagi kebanyakan makhluk hidup di Bumi. Gambar atas adalah mikroba yang dikembangbiakkan oleh fosfor. Gambar bawah adalah mikroba yang sama yang dikembangbiakkan oleh arsenik. Mikroba ini masih tetap berkembang bila dikembangbiakkan oleh arsenik. Perhatikan skalanya dalam mikron atau sama dengan satu per sepuluh ribu centimeter. Mikroba ini jauh lebih kecil daripada ketipisan rambut manusia (sekitar 17 hingga 180 mikron). Sumber: NASA Beberapa jasad renik memiliki kemampuan untuk berfotosintesis dengan menggunakan arsenik karena ketiadaan oksigen, namun jasad renik yang ditemukan di Mono Lake ini menggunakan arsenik sebagai bagian dari dirinya. Arsenik menjadi salah satu komponen penyusun DNA dan RNA jasad renik ini. Mono Lake sendiri dipilih sebagai lokasi penelitian karena danau ini memliki kadar garam yang tinggi, zat alkali yang tinggi, dan juga kandungan arsenik yang tinggi. Susunan kimia yang tak biasa ini adalah karena Mono Lake sudah terisolisasi dari sumber-sumber air bersih selama 50 tahun. Mikroba yang disebut GFAJ-1 ini adalah anggota dari sekelompok bakteri yang dinamakan Gammaproteobacteria. Bakteri ini dibawa ke laboratorium lalu diberi “makanan” yang sangat sedikit fosfor namun mengandung banyak arsenik. Ketika fosfor dihilangkan dari menu dan diganti seluruhnya dengan arsenik, mikroba tersebut terus berkembang (gambar ada di samping). Ternyata komponen arsenik tersebut diikutkan ke dalam struktur mikroba tersebut lain, antara lain ke dalam DNA, protein, dan membran sel. Penemuan ini telah membuka wawasan kita mengenai definisi kehidupan. Ternyata kehidupan dapat muncul dari kondisi yang tidak berkenan bagi kehidupan model lain. Bila di Planet Bumi kehidupan seperti ini dapat tumbuh subur, bukan tidak mungkin jasad renik semacam ini pun dapat muncul di planet lain. Dengan kata lain, bentuk kehidupan yang dapat muncul di alam ini dapat sangat berbeda dengan yang selama ini kita ketahui. Kehidupan berbasis karbon kini bukan satu-satunya alternatif yang ada. Sewaktu kecil saya menonton salah satu episode serial Star Trek mengenai kehidupan berbasis silikon. Spock melakukan peleburan pikiran (mind meld) dengan makhluk ini dan menyadari bahwa kehidupan ini adalah kehidupan cerdas. Dua tahun lalu, saat saya sedang mengambil S2 di Observatorium Leiden, seorang ahli kimia organik memberikan kolokium dan mengatakan bahwa kehidupan berbasis silikon adalah fiksi ilmiah dan tidak mungkin muncul. Saya kini ingin tahu apa pendapatnya setelah adanya penemuan di Mono Lake ini.