16 Jan 2011

Misteri Orion Nebula

Ada sesuatu yang sangat aneh dan menakutkan tentang Nebula Orion. Nebula Orion adalah nebula menyebar di sebelah selatan Orion’s Belt. Daerah ini jelas terlihat dengan mata telanjang dan muncul pedang sebagai “bintang” di tengah Orion.


Nebula Orion adalah salah satu obyek yang paling banyak diteliti dan dilihat di ruang angkasa. Nebula ini dihiasi dengan sekelompok formasi bintang raksasa dan merupakan daerah koleksi bintang yang paling dekat dengan Bumi. Telah diamati juga bahwa “peluru” supersonik dari gas berulang kali menusuk awan hidrogen padat Nebula Orion.


Teori yang telah terdaftar di internet yang menyatakan bahwa daerah sekitar Nebula Orion berisi bintang-bintang yang berbahaya bagi Bumi. Banyak dari laporan berasal dari kelompok video YouTube dan artikel yang memberitakan ini, tetapi pemerintah menutup-nutupi. Video yang menjelajahi koordinat ruang angkasa yang terletak di dekat Nebula Orion adalah Google Sky dan penampil Microsoft space.


Kita semua akrab dengan kenyataan bahwa kalender Maya Long Count berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Rupanya, orang-orang Maya di Amerika Tengah memiliki cerita rakyat yang berurusan dengan bagian Orion di langit, yang dikenal sebagai Xibalba.

Kata ini secara kasar diterjemahkan sebagai “tempat menakutkan” yang berisi banyak tungku perapian tradisional atau bola api membara yang berhubungan dengan Nebula Orion. Ini aneh karena beberapa astronom terbesar dalam sejarah, termasuk Galileo yang membuat pengamatan teleskopik spesifik dari daerah sekitarnya Orion, tidak menyebutkan nebula.

Bahkan, tidak ada yang menyebutkan Nebula Orion sebelum abad ke-17. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa ada arus pergerakan dari bintang-bintang menerangi di nebula telah meningkatkan kecerahan daerah tersebut. Hal ini juga membuktikan bahwa orang-orang Maya memiliki pengetahuan pra-teleskopik Nebula Orion.

Nebula Orion telah dipelajari dengan seksama dan difoto oleh program ruang angkasa internasional. Bintang di nebula ini secara teratur memancarkan semburan besar bintang. Dalam banyak kasus, peristiwa-peristiwa besar berada pada skala yang lebih besar dari semburan bintang diproduksi oleh Matahari.

Ditemukan Fosil Pada Penjelajahan Planet Mars

Perburuan fosil di planet Mars, sangat berhubungan dengan sebuah teori baru mengenai bagaimana lautan terbentuk di planet Merah pada jaman dulu, serta ke depannya menunjukkan titik-titik terbaik.

Berdasarkan struktur geologi dataran utara di Mars, sebuah penelitian menunjukkan, bahwa air terbentuk sebagaimana air tanah secara perlahan meresap ke atas melalui retakan di lapisan atas.


Proses ini akan membuat danau dan laut secara cepat, hanya dalam hitungan tahun saja, tapi juga bisa menyokong eksistensi air selama seribu tahun. Demikian dikutip dari National Geographic, Senin (8/11/2010).

Bagaimanapun, meski planet Mars dulunya cukup berair, akan tetapi planet tersebut tidak memiliki atmosfer yang cukup tebal. Banyak para ilmuwan yang berpikir, bahwa jika memang ada kehidupan yang berevolusi di Mars, tempat terbaik untuk mencarinya adalah tempat dimana cairan air terlindungi dari perubahan suhu yang ekstrim, juga dari radiasi ultraviolet matahari yang merusak.

"Untuk menemukan kehidupan, kita harus melihat ke wilayah planet dimana keberadaan air cukup stabil. Untuk kasus planet Mars, airnya ada di bawah permukaan tanah," ujar J. Alexis Palmero Rodriguez dari Planetary Science Institute di Arizona.

Hal ini menimbulkan sebuah dilema bagi para pemburu fosil, karena untuk menggali, demi menemukan jejak kehidupan di planet Mars membutuhkan waktu dan peralatan yang tidak tersedia di kendaraan penjelajah robotik yang dikirimkan untuk mengeksplor permukaan planet tersebut.

Tapi menurut penelitian terakhir, air yang merembes di wilayah utara Mars, mungkin adalah air yang sangat purba, yang terperangkap di bawah permukaan tanah untuk waktu yang sangat lama, sampai milyaran tahun. "Lingkungan tersebut adalah tempat yang stabil bagi organisme untuk tumbuh dan berevolusi," kata Rodriguez.

Itu berarti, bahwa beberapa batuan sedimen di tempat bekas lautan purba di Mars, menyimpan fosil kehidupan Mars yang mungkin bisa diakses melalui kendaraan penjelajah robotik.

NASA Temukan Planet Berbatu Mirip Bumi

WASHINGTON - Sebuah teleskop NASA telah menemukan planet kecil di luar tata surya kita dan kondisinya berbatu sama seperti Bumi.

Sayangnya planet tersebut suhunya terlalu panas untuk mendukung kehidupan. Di satu sisi planet tersebut bersuhu sekira 2.700 derajat Fahrenheit atau 1.500 derajat celsius.

Planet tersebut bernama Kepler 10-b, yang diambil dari nama teleskop yang menemukannya. Demikian seperti dari Daily Mail, Selasa (11/1/2011).

Ilmuwan dari NASA, Natalie Batalha, mengatakan bahwa planet tersebut berukuran sekira 1,4 kali dari Bumi dan memiliki massa sekira 4 1/2 kali planet kita.

Para ahli astronom juga telah menemukan planet lainnya di luar tata surya kita yang massa-nya mirip dengan Bumi, tapi tidak ada yang semirip ini dalam ukuran diameter.


Alasan mengapa planet ini terlalu panas untuk ditinggali oleh mahkluk hidup adalah, jaraknya yang 20 kali lebih dekat dengan bintang induknya, dibandingkan jarak planet Merkurius dengan matahari kita.

Inilah Astronom Cilik Asal Kanada Yang Temukan Supernova

Gadis cilik ini menjadi orang termuda yang menemukan supernova.


Astronom cilik, Kathryn Gray (Canadian Press)

Usianya baru 10 tahun, namun Kathryn Gray telah mencatatkan namanya di dunia astronomi. Gadis cilik ini menjadi orang termuda yang menemukan supernova.

Di malam tahun baru, anak yang berasal dari Kanada ini menemukan supernova dengan magnitude 17 -- ledakan besar yang menandai kematian sebuah bintang, seringkali lebih besar dari Matahari. Bintang yang mengalami supernova akan tampak sangat terang, bahkan lebih bersibar dari semua galaksi.


Untuk mencari sebuah supernova, harus rajin menyisir lusinan gambar lama kolom bintang, membandingkannya dengan gambar yang baru. Penampakan supernova seperti titik terang pada kolom bintang.

Kathryn yang punya nama tengah 'Aurora', mempelajari gambar-gambar yang diambil sebuah observatorium amatir yang dikirimkan ayahnya, astronom amatir Paul Gray. Gambar-gambar itu diambil dari teleskop milik Cave Lane, mantan astronom di Nova Scotia.

Ia menemukan supernova, yang dijuliki Supernova 2010lt, setelah empat kali mengamati 52 gambar dari layar komputer.

Lalu, "Kathryn menunjuk ke arah layar dan berkata: inikah? Aku berkata, ya, bagus," kata ayahnya, Kathryn seperti dimuat situs Daily Mail.

Supernova yang ditemukan berada di galaksi yang jauh, UGC 3378 yang terletak di konstelasi Camelopardalis -- sekitar 240 juta tahun cahaya dari Bumi.

Royal Astronomical Society of Canada (RASC) mengatakan Kathryn adalah penemu termuda. Penemuan ini dengan cepat dikonfirmasi oleh Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union).

"Sangat fantastis, anak semuda itu memiliki gairah dalam dunia astronomi. Ini adalah temuan yang luar biasa, kami sangat senang," kata Direktur Eksekutif RASC, Deborah Thompson.

Apalagi, supernova terakhir di galaksi kita terjadi beberapa ratus tahun lalu.

Kathryn mengaku ia berencana untuk terus memindai langit dan mencari supernova. Kata dia, itu hobinya.

Wow.. Empat Astronom dari Bandung Jadi Nama Asteroid

Empat nama astronom yang semuanya warga Bandung diabadikan menjadi nama asteroid. Keempatnya merupakan mantan kepala Observatorium Bosscha, di mana tiga di antaranya masih aktif sebagai dosen astronomi ITB.

Kepala Observatorium Bosscha Hakim L Malasan mengatakan Internasional Astronomical Union atau federasi astronomi tertinggi di dunia, memberikan empat nama astronom asal Bandung untuk empat buah asteroid jenis Trojan.


Keempat astronom itu adalah

1. Bambang Hidayat (76) mantan Kepala Bosscha 1968-1999, yang diabadikan pada asteroid bernomor (12176) Hidayat = 3468 T3.
2. Moedji Raharto (56) mantan Kepala Bosscha 2000-2003, diabadikan pada asteroid (12177) Raharto = 4074 T3.
3. Dhani Herdiwijaya (47) mantan Kepala Bosscha 2004-2005 yang namanya disematkan pada asteroid (12177) Dhani = 4304 T3.


Terakhir Taufik Hidayat, Mantan Kepala Bosscha 2006-2009, yang namanya diabadikan pada asteroid (12179) Taufiq = 5030 T3.

"Ini merupakan pertama kalinya asteroid diberi nama orang dari warga negara Indonesia, yang kebetulan semuanya warga Bandung," ujar Hakim saat ditemui di Kampus ITB, Jalan Ganeca, Jumat (14/1/2011).

Asteroid itu ditemukan oleh peneropong langit asal Belanda yaitu C. J Van Houten dan I. Van Houten-Groeneveld pada 16 Oktober 1977. "Saat ditemukan hingga November 2010 empat asteroid itu belum memiliki nama," katanya.

Empat asteroid yang kini berganti nama empat astronom itu mempunyai diameter 1 hingga 1,5 kilometer. "Kalau dari jarak matahari ke asteroid itu sekiar 500 juta kilometer dan empat asteroid itu berada di tengah-tengah planet Mars dan Jupiter," tuturnya.